Lahir di Kolong Ranjang




*Lahir di kolong ranjang*

"Mb, haidku kok gak merah ya? Hanya bercak-bercak saja". Curhatku pada seorang teman guru di sekolah TK tempat kami mengajar. Dua hari ini aku tidak sholat, karena aku menyangka itu adalah darah haid. Tapi aku penasaran, tidak biasanya seperti ini.
"Mau menopause mungkin, ngunduri tuo", jawab dia sambil bercanda. Ah, masak iya aku mau menopause, umur baru 30 tahun. Aku penasaran, jangan-jangan aku hamil, karena hamil anak pertama dulu juga diawali dengan flek. Pulang sekolah aku mampir ke apotek untuk membeli 2 buah tespek. Karena penasaran, siang itu langsung aku tes, ehh.. stripe dua. Ya, Aku hamil.

Kehamilan kali ini datang tepat waktu, sesuai dengan program yang kami rencanakan, setelah kakak kedua berumur 6 tahun, Kakak pertama berumur 8 tahun. Kami sengaja memberi jarak usia anak kedua dan ketiga agak panjang, supaya bisa melahirkan pervaginam, walaupun jarak kehamilan bukan merupakan syarat mutlak, karena kenyataanya banyak diantara teman yang bisa vbac dengan jarak sebelum 2 tahun.

*TM 1*

Shoping nakes. 
Aku masih beraktifitas seperti biasa, pagi ngajar ke TK, siang sampai sore ngonlineshop. Di kotaku hanya ada 2 spog perempuan. Kami mendatangi spog pertama di sebuah klinik swasta dengan dr. H, saya menyatakan keinginan untuk melahirkan normal, tapi beliau tidak mengizinkan dengan alasan kedua anaku melahirkan secara Secio. Hmmm, berbisik ke suami "kita cari second opinion yuk". Kondisi saat itu sedang flek, sehingga mendapatkan obat penguat kandungan, Alhamdulillah 'ala kulli hal.

Suatu hari, Flekku bertambah banyak seperti darah haid, Aku mengajukan cuti dari sekolah sampai sehat betul. 

Sambil terus mencari nakes yang mendukung rencana vba2c, aku mendatangi bidan P, dari info yang aku peroleh bidan P ini pernah menangani klien vbac dan beliau pelaku vbac. Hari pertama pencarianku gagal menemukan klinik beliau, pulang dg tangan kosong. Besoknya kami mencoba lagi mencari klinik beliau, alhamdulillah ketemu. Beliau mensuport rencanaku, asal kehamilanku sehat.
Berbunga-bunga rasanya, Pulang senyum2.

Satu bulan full aku bedrest, tidak masak, tidak melakukan aktifitas berat, banyak tiduran di kasur. Dalam masa istirahat itu, aku terus mencari informasi komunitas vbac, Alhamdulillah dari seorang teman, aku bisa masuk group suport vbac oleh bidan I. Group yg sangat bermnfaat. Setelah itu aku bisa masuk group vbac lagi oleh mbak M. Banyak banget ilmu dari sana.
Bisa bertemu banyak teman-teman pelaku vbac adalah kekuatan tersendiri bagiku. 

*TM 2*
Selama flek di TM 1, selain konsumsi obat penguat kandungan, aku konsmumsi *kurma azwa* setiap hari. Alhamdulillah sudah tidak flek lagi, aku merasa badanku sehat. Aku bisa beraktifitas seperti semula, Kembali ke sekolah mengajar anak-anak TK yg penuh keceriaan. 

Tiba saatnya puasa ramadhan, Aku mencoba untuk ikut berpuasa, dengan menu sahur wajib jus kurma susu, Alhamdululillah aku bisa menjalani puasa dengan sehat. Bisa ikut mudik lebaran ke Jawa Timur juga.

Dari berbagai info yang aku dapat, Aku menjalani terapi, eh bukan terapi ya tepatnya. Tapi *usaha* untuk mensukseskan program vbac. Mulai dari menjaga pola makan yang sehat, Non Msg, non pengawet.  Protein diperketat. Menu wajib telur rebus kampung 2 butir, supaya jahitan bekas sc yang lama sembuh total. Kurma 7 butir sehari, Madu 2 sm, Minyak Zaitun murni 2 sm. Awalnya aku ga bisa konsumsi minyak zaitun, aku minum yang berbentuk kapsul, tapi kata bidan P cangkang kapsulnya tidak baik dikonsumsi dalam waktu yang lama. Its, Ok. Tanya ke beberapa teman, Akhirnya aku mendapatkan cara yang cocok untuk konsumsi minyak zaitun. Minyak zaitun disendok didorong dengan air lemon madu anget di pagi, menjadi minuman wajib sebelum beraktifitas. Sayur, buah dan sumber protein lagi diperbanyak. 

Aku mendatangin spog lain dr I di sebuah RS swasta untuk mencari second opinion, dicek kondisi kehamilanku sehat semua. Alhamdulillah. Kami utarakan niat untuk melahirkan normal, Tapi beliau tidak mengizinkan, dengan alasan kedua anaku melahirkan SC. Suamiku menguatkan, "tidak mengapa, Alloh pasti memberi jalan". 
Aku menjalani hari-hari dengan bahagia, berharap yang di dalam perut sana juga bahagia dan sejahtera.

Aku dan suami mengikuti kelas amani gentle birth, di sebuah klinik milik bidan P, selama 8 pertemuan. Ma sya Alloh, Mata kami terbuka, akan hakikat melahirkan *secara alami* minim dari intervensi medis. Banyak banget ilmu yang kami peroleh dari kelas tersebut, tidak sebanding dengan rupiah yang kami keluarkan. Mataku, mata suamiku jadi lebih terbuka, akan hakikat kehamilan dan melahirkan. Banyaknya ilmu, tidak bisa dituliskan di sini semua. 

*TM 3*
Aku memeriksakan kehamilanku lagi, tapi galau antara kedua dokter perempuan mana yang akan aku datangin. Sebenarnya di kotaku banyak dokter kandungan lain, tapi mereka laki-laki. Bahkan dokter senior, yang terkenal paling banyak ilmunya, diapun laki-laki. Hemm, Dalam rumus kami, dokter laki-laki muslim menduduki no. 3. Dengan urutan: Pertama dokter wanita muslim, kedua dokter wanita nonmuslim, ketiga dokter laki-laki muslim, Suamiku tak ingin, aurat istrinya dilihat orang lain, kecuali benar-benar darurat. Terimakasih suamiku, engkau telah menjagaku, semoga Alloh memberikan pahala yang melimpah padamu.

Setelah musyawaroh, kami memustukan untuk ke dokter I saja. Dari rumah sudah berniat untuk tidak membahas tentang vbac, Tapi kami hanya akan menanyakan tentang kesejahteraan janin. Aku melihat layar usg, "Bayinya melintang bu, ketubah bagus, plasenta disamping". Bergelayut dalam hati, kalau bayi melintang apa bisa melahirkan normal ya?, plasenta juga rendah, bisa jadi pendarahan.  Deghhh. Pulang dr RS dalam keadaan galau, pingin nangis rasanya. 

Aku WA bidan P, tentang hasil USG, HB ku juga rendah. aku punya PR baru yang harus segera diselesakan. Dari bidan P aku memperoleh kontak mb D, ahli gizi, untuk membuatkan menu harian, untuk meningkatkan HB supaya normal. Aku menghubungi mbk N, Untuk memulai senam hamil. Aku sudah tidak lagi konsumsi obat kimia, hanya perbagus makanan saja, ditambah Air putih 2 Liter, air kelapa 1-2 butir perhari. Aku berusaha mengusir kegalauan, dengan banyak berfikir positif. Aku juga mengikuti Pelatihan Persalinan Maryam oleh bidan M, banyak aura positif dari sana. 

Aku privat senam hamil bersama mb N, excercise rutin Kneecest, forward leaning, cat coe, brech tilt dan lainya. Setelah 2 pekan, mb N menyarankanku untuk cek lagi ke spog, memastikan bagaimana posisi bayiku sekarang. Ma sya Alloh, bersyukur Alhamdulillah, Posisi kepala dah di bawah, plasenta juga udah naik. Berbunga-bunga, Alloh mengabulkan doa-doa dan ikhtiar kami. 

Mendekati Hpl, 38 week. Rencana kami sudah matang untuk melahirkan di sebuah klinik bidan P, Aku mendatangi beliau, kami merancang birth plan. Alhamdulillah semua OK. Bidan P memintaku untuk ke spog terakhir kali, untuk memastikan kesejahteraan janinku dan untuk menanyakan ketebalan SBR (Segmen Bawah Rahim). Aku melihat monitor, dokter berkata "ketuban tinggal sedkit, ada pengapuran plasenta". Hmmm. 
"Banyak dok pengapuranya?" Karena yg aku fahami, kehamilan usia tua, plasenta pasti mengapur. "50% kata beliau". Ketebalan SBR ku 0,28 cm. Suamiku meminta untuk ngeprint hasil cek SBR. Dokter merasa aneh, "untuk apa pak?". Aku diam karena ga punya jawaban, tapi ternyata suamiku punya jawaban yang tepat. "Untuk kenang2an dok". Dokter ngeprint sambil geleng-geleng kepala. 
Pesan dokter terakhir sebelum kami meninggalkan ruangan, "Bu, ini harus di SC dalam minggu ini ya". Auuu dapat jadwal SC nih. Kami diam saja, dan pamit tidak lupa ucapkan terimakasih.

Kabur meninggalkan RS, "bayar dulu mi". He he, semangat kabur, sampai hampir lupa belum bayar administrasi.

Pulang dari RS ada sedkit kegalauan, aura negatif secara tak langsung mempengaruhi pikiranku *Ketuban sedikit, Pengapuran Plasenta*. Aku WA my tim suport, Alhamdilillah dapat pencerahan dari sana. Aku mampir beli air kelapa, Dan bersenang-senang dengan anak2, mengantar mereka ke kolam renang.

Aku mencari second opinion, Besoknya aku mendatangi tempat praktek dr H. Ambil nomor antrian dapat nomor 3. Setelah menunggu sekitar 30 menit, yang masuk ruangan praktek adalah spog laki2, bukan bu H. Setelah konfirmasi ke bagian pendaftaran, ternyata bu H sedang sakit. Kami memutuskan pulang, dengan tangan kosong. Dalam hatiku, pasti ada hikmahnya. 

Aku musyawaroh dengan suami,

Masih ingin mencari second opinion, kami touring berangkat jam 8 pagi, tujuan pertama ke Boyolali, dari info seorang teman di sana ada spog perempuan yang recomend. Sesampai di RS yg kami tuju, qodarulloh bu dokter sedang cuti. Hmm, tangan kosong lagi. Dalam hatiku "Pasti ada hikmahnya". 

Lanjut perjalanan menuju Solo, ada keperluan bisnis dengan seorang patner, dilanjut belanja kain, mumpung belum melahirkan semua urusan aku selesaikan. Rencana awal mau ke dokter NH, karena beliau laki-laki maka aku akan konsultasi aja membawa hasil USG dari dokter perempuan sebelumnya, qodarulloh hasil print out usg ketinggalan, hmmm, gak jadi deh ke tempat beliau. Diiringi derasnya hujan, perjalanan dilanjutkan ke Sleman, ketemu bidan M. Allohu akbar, konsultasi dengan beliau membuat hati tambah mantap untuk vbac, meski jauh dalam hatiku masih ada sedikit kegalauan masalah ketuban sedkit dan pengapuran plasenta.

Aku meminta suamiku untuk mengantar ke spog perempuan yang lain lagi, di kota Boyolali. Tapi beliau menasehati.
"Kalau saran abi, mending gak usah ke sana lagi, nanti bisa jadi tambah galau, toh dari bidan M dicek semua udah baik-baik saja, abi udah yakin ummi bisa. Tapi, kalau ummi penasaran, abi antar" 
Akhirnya aku mengikuti keinginan suamiku, untuk tidak ke spog lagi. Taat pada suami pasti akan berakhir baik, begitu keyakinanku. Menunggu aja sampai gelombang cinta itu datang. Dengan memperbanyak gerak, Setiap mandi aku berdiri jongkok pegangan bak kamar mandi. Berharap si dia cepat turun. 



Hmm, saat masih sedikit galau, bidan P whatsapp kalau beliau tidak bisa menolong persalinanku di kliniknya, karena aku belum mendapat recomendasi spog untuk vba2c.
Tapi sejujurnya beliau masih ingin menolong, karean terbentur SOP dan kondisi suasanan di kotaku yang tdk memungkinan. Sempat terfikir untuk homebirth. Tapi beliau menyarankan untuk ke bidan M aja di Sleman.
"Baik bu, saya akan istikhoroh dulu". 

*VBA2C, Lahir di kolong ranjang*

39 week 3 day

Rabu, 16 Nov 2016
Dini hari sekitar jam 1 an aku terbangun krn gelombang cinta mulai datang, halus di dalam sana. Lanjut Pip, Pup dan berwudhu. "Apakah ini saatnya ketemu si dia?". Hmmm. 
Aku berdoa kepada Alloh, Untuk mempermudah proses persalinan di mana saja, dan dijauhkan dari ruptur uteri. Kembali aku mengingat materi ruptur yg disampaikan bidan i, dan alhamdulillah ciri2nya tdk ada pada ku. Mencoba untuk tidur lagi tapi gak bisa, Aku bangunkan suami, meminta pertimbangan utk telp ibu. Jujur, masih kepikiran anak2 kalau ditinggal ke Sleman sementara ortu belum ke Salatiga. Ibu rencana datang hari Kamis, tapi ini udah mules. 
Aku rebahan lagi, Alhamdulillah bisa tertidur sampai subuh. Setelah subuh, aku kabarin ibu, alhamdulillah rencana datang dimajukan nanti sore, berarti sampai Salatiga kamis sianng, legaa.

Masih bisa aktifitas seperti biasa. Nyimak hafalan si kakak, masak, nyuci piring, nyapu, jemur, meskipun di sela-sela itu kontraksi datang lagi, nikmatt. 

Aku WA bidan Ibu Alam tentang yg kurasakan, beliau bilang "tetap tenang mbk", "ok bu". Bidan Ibu Alam ini yg akan mendampingi perjalananku menuju Sleman. Rencana awal aku mau melahirkan di klinik ibu alam milik bidan Ibu Alam di Salatiga, tempatnya dekat sekitar 15-20 menit dari rumah. Sudah sreg, dengan tempat, pelayanan dan segala hal. Udah ngebayangin nyemplung di kolam saat kontraksi menguat, dengan suara murotal dan aroma terapi, pasti menyenangkan sekali, oksitosin bakal banjir :-)
Karena ada suatu hal, aku disarankan untuk melahirkan ke Sleman di bidan Mugi klinik Rahayu, Persalinan Maryam.

39 w, 4 day
Kamis, 17 Nov 2106
Dini hari lagi aku ngitung pakai contraction timer, udah per 5 menit sekali, durasi 30-40 detik. Suami aku bangunin, untuk masak nasi dan bikin soto, untuk sarapan anak2, rencana anak2 berangkat sekolah, aku bergkat ke Sleman. Aku WA bidan Ibu Alam, minta pertimbangan, ok kita berangkat hari ini. Jam 6.30 team ibu alam datang. Sblm berangakt cek VT dulu di rumah, pembukaan satu longgar. Alhamdulillah perjalanan lancar, setelah serah terima rombongan balik ke Salatiga. Eh, tp sampai sore kontraksiku kalem lagi. Jalan2 sore keliling komplek, Hmmm. 
Malam mulai menguat. Alhamdulillah.

39 w, 5 day
Jumat, 18 Nov 2016
Pagi hari cek VT lagi oleh bidan di daerahku, masih sama pembukaan 1 longgar. Degh, dalam hati. Sehari semalam masih sama. Aku WA mb muti tim suportku, Alhamdulilah jawban cukup menenangkan. WA bidan ibu alam, minta suport juga, dan sama mb bidan asisten bidan tempatku disarankan naik turun tangga. Aku bawa Gymbal masuk ke kamar, Gymbal dan tanggalah sahabat setiaku. 
 
Sekitar jam 14.00 keluar mucus, lendir kental yang dinanti, Senangnyaaa, satu tanda 😍, Alhamdulillah. Tambah semangat excercise. Sambil panjatkan doa-doa.
Sore udah ga bisa makan apa2, kontraksi makin intens. Sekitar jam 23,00 ketuban pecah di kamar mandi, pyokk, tanda kedua, makin dekat ketemu dek bayi 😍. 

Sabtu 19 Nov 2016
Setelah ketuban pecah, Suami memanggil bidan di kamar sebelah, Cek VT, sebenarnya ragu-ragu akunya, karena pernah baca kl ketuban udah pecah, cek VT menyebabkan infeksi, tp karena beberapa masukan tetap cek VT, pembukaan 6-7. Perkiraan 3-4 jam lagi. Semangat lagii, goyang gymbal, berdiri jongkok, squat. Malam itu hanya makan kurma ajwa, madu yaman, air putih, alhamdulillah kuat. Setiap kontraksi menguat, suami mengingatkan nafas-nafas, rilex. Jam 2 an dini hari, terdengar ayam berkokok, yuk kita banyak2 doa. Jam 3 mulai down, belum ada tanda-tanda lagi. Aku minta mandi, biar fresh. Jam 4 keluar darah bercak2, tanda lagi 😍. Bu mugi datang, cek Vt pembukaan lengkap tapi bayi masih tinggi. Alhamdulillah, Tinggal menunggu. Semangat lagi. 1 jam berlalu, blm ada tanda2 bayi akan keluar, sementara tubuhku makin capek. Aku ga mau naik dipan, pilih pakai matras di lantai, bisa lebih bebas bergerak pikirku. Dan aku meyakini, melahirkan dengan posisi jongkok adalah terbaik, mengikuti grafitasi bumi.
Tiba waktu subuh para bidan bergantian ijin utk sholat, suami juga. Jam 6 ke kamar lagi, tapi belum ada tanda-tanda. Lalu mereka bergantian pamit, ada yang nyapu klinik, masak dll. Jam 06,00 aku minta mandi lagi, setelah itu ngantuk berat, setengah tidak sadar, berdiri jongkok diantara kontraksi sambil pegangan sisi besi dipan persalinan, iseng aku raba jalan lahirku, ma sya Alloh, kesentuh ubun-ubun. Histerisss, "Abi ubun-ubun udah keraba", suami tak minta pegang juga, Ga ada bidan di kamar. "Bi, siapin handuk bersih, nanti kalau keluar jangan ditarik ya, tangkap, tengkurepin". Karena posisiku jongkok menghadap ke dalam dipan, suami nangkap bayi dari kolong dipan besi yang tinggi, jadi main cilukba intip-intipan dengan dik bayi. Bismillah,  Jadi semangat lagii, Satuuu belum berhasil, dua belum lagi, tigaa kerasa nyerii, dalam hatiku membatin pasti robek tuh, bakal dijahit, gpp deh. alhamdulillah ujung kepala keluar, tapi aku ga kuat, berhenti dulu. Empat keluar sempurna. "Ma sya Alloh, kelilit tali pusat bi". *So sweet deh, dek bayi maunya lahir langsung ditangkap abinya sendiri*, pengalaman yang tak akan pernah kami lupakan. Bu bidan masuk bawa sarapan, kaget semua, tergopoh2, "Udah lahir, udah lahir", bayi dipindah tangankan, dibersihkan dan imd di matras. Laki-laki, Berat 3 kg, panjang 50. Jahitan 4. 

*Muhammad Harits Al Fatih*
Nama pemberian kakak Naufal dan Kakak Ahmad

Alhamdulillah perjuangan selama hamil, pemberdayaan diri, Asupan Gizi, Excercise, Doa-doa yang dipanjatkan, Menuai hasil yang diinginkan. Dia bisa lahir pervaginam, setelah dua kakaknya Secar.

*Bukan kita yang hebat, tapi pertolongan Allohlah yang maha dekat*

Yang berbahagia (owner toko harits)

Our Gallery

Kumpulan galeri klinik ibu alam

Contact Us

Untuk memperluas jaringan, dan kerjasama dalam mengaplikasikan konsep Ibu Alam ke dalam sebuah klinik pratama / utama / RS. Ibu Alam menyediakan pendidikan dan pelatihan (education and training) oelh Ibu Alam tim bagi stake holder yang berminat. Pelayanan holistik ini mampu bersaing di era global, karena mindset costumer bukan lagi pelayanan gratis namun pelayanan yang nyaman dan humanis. Company Profile Ibu Alam akan dikirim via email jika anda berminat mengadakan kerjasama.

Contact Info

  • Tegalsari 1/8 Mangunsari
    Sidomukti Salatiga
    Jawa Tengah 50721