My Journey of Giving Birth




Menjadi seorang ibu adalah anugerah sekaligus amanah bagi seorang wanita. Mengandung, melahirkan, dan menyusui adalah tugas yang mulia yang Tuhan khususkan untuk para wanita meskipun tak semuanya beruntung mendapatkan tugas tersebut. Merawat dan mendidik anak bersama pasangan menjadi sebuah proses yang penuh hikmah. Aku bersyukur sekali Tuhan memberiku kesempatan untuk mengalami momen-momen teristimewa dalam kehidupan seorang wanita. Saat-saat mengandung hingga melahirkan adalah sebuah perjalanan istimewa yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Mengabadikan kisahnya lewat sebuah tulisan merupakan kado yang berharga untuk ananda juga untuk bunda dan ayah.

So, this is my journey of giving birth

Wow…it’s positive

Aku ingat betul pagi itu aku diantar ibuku ke bidan untuk periksa karena aku sudah 2 minggu sakit perut yang rasanya seperti orang akan datang bulan tapi jauh lebih sakit disertai diare beberapa hari. Waktu itu aku baru menikah 4 bulan dan belum merencanakan program kehamilan karena memang aku sedang menjalani kuliah S2 beasiswa. Aku sama sekali  tak curiga saat  30 hari aku tak mendapatkan menstruasi karena memang rata2 setiap 25-30 hari sekali aku baru menstruasi. Ketika bu bidan menyuruhku untuk tes urine pun aku masih belum ada perasaan apa-apa karena 2 bulan terakhir ketika aku telat menstruasi aku sealu tes urine dengan test pack tapi hasilnya selalu negatif. Pikirku kali ini mungkin juga sama.

Ternyata Tuhan berkata lain, test pack yang pagi itu diberi bu bidan setelah dilihat bergaris dua artinya aku positif hamil. Subhanallah…manusia merencanakan, Tuhan jua lah yang menentukan. Aku terkejut, kaget dan merasa belum percaya. Supaya bertambah yakin aku beli lagi 2 test pack merek lain dan hasilnya pun sama. Keyakinan itupun menjelma menjadi bahagia. I’m pregnant! Segera aku telpon suami yang saat itu sedang di rumah mertuaku di Jepara. Suamiku tertawa kecil saat aku bilang aku positif hamil. Dia pun segera memberitaukan kabar bahagia ini ke ibu dan bapak mertua.

 

Trimester pertama

Saat tahu bahwa aku positif hamil, saat itu di tempat bidan pertama kali aku cek up mengatakan usia kandunganku sudah 5 minggu. Aku belum punya ide apapun mengenai kehamilanku ini. Aku belum membaca tulisan-tulisan seputar kehamilan sebelumnya. Seorang kerabat menyarankanku untuk membuka sebuah situs yang memuat informasi seputar kehamilan. Suatu ketika aku membuka situs tersebut dan aku tertarik dengan judul-judul artikel yang dimuat di situs tersebut namun aku hanya sempat membaca satu atau dua artikel.

Trimester pertama kehamilan bagiku adalah masa-masa merasakan “ketidaknyamanan”. Perutku seringkali sakit seperti kontraksi. Badanku lemas sekali. Mual sepanjang hari. Lidahku pahit. Terkadang ingin muntah tapi tidak bisa. Tak enak makan, tidur pun tak bisa nyenyak karena seringkali perutku mendadak sakit terutama di malam hari.

Dalam kondisi seperti itu aku masih harus masuk kuliah, mengerjakan tugas-tugas untuk ujian semester hingga terkadang begadang semalaman. Untungnya ada suami yang mendampingiku sehingga hari-hari yang berat itu terasa lebih mudah. Aku juga merasa bayi dalam kandunganku cukup kuat dan pengertian. Saat diajak masuk ke kelas untuk mengikuti perkuliahan, aku merasa tubuhku dan bayiku bekerja sama menguatkan diri sehingga aku tetap bisa fokus. Begitu keluar kelas setelah seharian penuh berjibaku dengan materi perkuliahan yang saat itu sedang kejar tayang untuk ujian semester, barulah aku ambruk.

Memasuki usia kehamilan 3 bulan, saat itu adalah bulan puasa pertamaku bersama suami dan keluarga di Jepara. Aku sudah pernah cek up ke dokter spesialis kandungan di RS dekat kampusku di Semarang tentang keluhan sakit perutku dan dokter bilang kandunganku baik-baik saja. Aku putuskan untuk menjalankan ibadah puasa seperti biasa. Aku yakin aku bisa walaupun kondisiku lemah. Hampir sebulan aku lebih banyak menghabiskan waktu di atas tempat tidur sepanjang hari. Tiap kali mencium bau orang menggoreng atau bau masakan, rasa mualku berlipat ganda. Sungguh tersiksa. Sakit perutku masih rutin datang terutama di malam hari.

Sebenarnya aku ingin terus puasa hingga lebaran, tapi saat cek up rutin ke bidan langgananku saat di Jepara, ia menyarankanku untuk tidak puasa mengingat ia sempat kesulitan mencari detak jantung bayiku yang biasanya di usia kehamilan 3 bulan bisa dengan mudah ditemukan, juga karena bobotku turun hingga 4 kg hanya dalam 3 minggu. Akhirnya aku putuskan untuk selang seling puasa dan tidak puasa pada seminggu terakhir bulan Ramadhan tergantung kondisi tubuhku.

 Tubuhku mulai fit lagi saat tidak puasa, tentu saja karena tubuhku punya asupan yang cukup untuk dibagi berdua dengan jabang bayi dalam kandungan. Sakit perut yang kurasakan masih terasa meskipun jika siang hari agak berkurang. Puncaknya ketika malam takbiran, aku mengalami sakit perut hebat hingga aku tak kuat untuk sekedar bangun dari tempat tidur. Aku dilarikan ke rumah sakit jam 11 malam. Sampai di rumah sakit, setelah diperiksa dokter menyatakan kandunganku baik-naik saja. Masalahnya ada pada perutku. Semacam ada infeksi lambung tapi aku diperbolehkan rawat jalan di rumah. Aku pun bisa bernapas lega.

 

Trimester kedua

Aku mengagumi ibuku yang melahirkan keempat anaknya dengan persalinan normal dan kesannya mudah saja. Itu aku simpulkan dari cerita ibuku dan sanak saudara di sekitar yang menjadi saksi sejarah. Hal inilah yang membuatku bertekad untuk melahirkan secara normal dan yakin bahwa melahirkan itu bisa mudah. Beberapa teman bilang bahwa melahirkan normal itu sekalipun sakit tapi kalau sudah lihat bayinya sakitnya hilang, begitu urai teman-temanku yang sudah menjadi ibu.

Kubulatkan tekadku untuk melahirkan normal. Sejak awal sudah aku membangun keyakinan bahwa aku mampu melahirkan secara normal tanpa operasi. Aku percaya bahwa dengan kuasa Tuhan, melahirkan akan jadi mudah. Dalam setiap sujudku tak lupa aku minta pada Sang Maha Kuasa agar aku bisa melahirkan di saat yang tepat di tempat yang tepat dibantu orang yang tepat pula dengan persalinan yang alami dan tidak sakit.

Aku mulai meluangkan waktu untuk membaca artikel-artikel seputar kehamilan dari situs yang diberitahukan oleh kerabatku. Situs bidankita.com. Aku langsung jatuh cinta dengan Hypno-Birthing. Aku ceritakan pada ibuku dan ibuku meskipun tidak begitu paham juga mendukungku. Ibuku lalu teringat bahwa kerabatku yang memberitahukan aku situs bidankita.com itu punya buku tentang hypno-birthing bahkan punya CD nya. Aku berniat untuk meminjamnya suatu saat.

Sejak awal trimester kedua kehamilan, aku mulai rutin menjalani kuliah pulang pergi Salatiga-Semarang naik bissatu hingga dua kali dalam seminggu. Bukan hal yang mudah terutama jika harus berdesakan sambil berdiri. Berjibaku dengan tugas, memulai penulisan proposal tesis, bolak-balik bimbingan, dan mencari referensi cukup menguras waktu, tenaga dan pikiranku. Tubuhku sudah tidak lemas lagi. aku merasa sehat dan kuat untuk beraktifitas seperti biasanya, namun hal ini seringkali justru membuatku kurang memperhatikan kehamilanku.

 Aku tidak punya cukup waktu untuk membaca-baca lagi artikel kehamilan karena fokus mencari bahan untuk penulisan tesis dan tugas-tugas. Kadang aku malah makan tidak teratur dan kurang tidur akibat begadang. Minum vitamin pun tidak bisa rutin. Suatu ketika karena kelelahan perutku terasa kencang, jantungku  pun berdetak kencang. Saat cek up, bidan Wati menyarankan aku untuk lebih banyak istirahat kalau bisa cuti kuliah dulu. Sayangnya aku tidak bisa memenuhi saran tersebut. Aku dikejar tanggungjawab menyelesaikan kuliah S2 tepat waktu karena aku kuliah atas beasiswa pemerintah. Jadi aku harus tetap kuliah dengan segala resikonya. Aku percaya Tuhan memberikan kekuatan padaku dan juga pada bayiku untuk menjalani semua ini bersama.

 

Trimester ketiga

Kalau tidak salah ingat, malam di mana ibuku mengadakan selametan kecil-kecilan dalam rangka mitoni adalah malam di mana aku mulai mempersiapkan ujian proposal tesis yang sudah di depan mata. Tidak ada acara siraman ataupun ritual lainnya. Sepertinya tidak ada adat itu di keluargaku. Selang sehari setelah mitoni, aku bersama bayi dalam kandunganku menghadapi para penguji dan Alhamdulillah proposalku lulus dan bisa dilanjutkan ke penelitian tesis. Sungguh ini bagiku adalah kado yang manis di 7 bulan kehamilan. Aku bertekad ingin segera merampungkan tesisku. 

Tahun baru 2013, usia kehamilanku sudah 8 bulan. Perkuliahanku sudah akan berakhir. Masih ada beberapa tugas kuliah untuk ujian semester 3 ini. Meskipun aku mulai rutin meluangkan waktu untuk membaca artikel-artikel seputar kehamilan, aku masih belum bisa fokus hanya pada kehamilanku saja. Aku bahkan harus mulai keliling mengurus izin penelitian. Ibuku sempat khawatir aku kelelahan dan berpengaruh ke bayiku. Aku meyakinkan ibuku bahwa aku baik-baik saja.

Saat usia kehamilanku 34 minggu, aku terkena patotilis atau kata orang jawa ‘gondongen’. Suhu badanku tinggi sudah sekitar 2 hari. Aku kesulitan makan. Tubuhku lemas. Aku sudah periksa ke bidan dan sudah diberi obat tapi kondisiku belum membaik. Hari ke-3 dan ke-4 suhu badanku membaik di pagi hari tapi menjelang sore panas kembali. Hari ke-5 aku sudah lebih baik tapi masih gondongen. Ibuku menyuruh aku periksa ke dokter spesialis kandungan langgananku di Salatiga. Saat dicek, suhu tubuhku memang sudah turun mendekati normal. Pun begitu, dokter itu menyarankanku untuk diopname karena khawatir aku terkena tipes atau DB yang tentu saja bisa berpengaruh ke bayiku nanti. Apalagi saat dilakukan USG diketahui berat badan bayiku belum ada 2 kg, hanya 1,9 kg padahal sudah akan memasuki minggu ke 35. Akhirnya aku pun memutuskan menuruti nasehat dokter. 3 hari 2 malam aku di rumah sakit. Aku ditangani oleh 2 dokter. 1 dokter penyakit dalam dan 1 dokter kandungan. Hasil lab menyatakan aku positif typhus dan patotilis ku pun belum sembuh. Untungnya bayi dalam kandunganku sehat-sehat saja. Hanya harus ‘dikejar’ berat badannnya.

Bulan ke-9

            Setelah kembali ke rumah pasca opname, atas permintaan ibuku, aku memutuskan untuk menghentikan semua hal yang berhubungan dengan penulisan tesis. Aku mulai benar-benar fokus dengan kehamilanku yang akan memasuki bulan terakhir. Mungkin benar tubuhku dan bayiku sudah kelelahan dengan semua urusan kuliah. Sebenarnya keputusan ini tak mudah karena bagaimanapun aku khawatir tidak bisa mengejar target selesai kuliah 4 semester. Namun aku sadar bahwa aku juga harus memperhatikan perkembangan bayi dalam kandunganku. Aku meyakinkan diriku bahwa nantisetelah melahirkan aku bisa tetap mengejar target merampungkan penulisan tesisku tepat waktu.

Sejak saat itu aku mulai semakin rutin membaca artikel-artikel tentang kehamilan. Bahkan aku mencetak artikel-artikel pilihanku dan mengumpulkannya menjadi satu bendel agar lebih mudah dibaca. Selain browsing internet, aku juga meminjam buku dari salah satu kerabatku. Karena ingin berlatih relaksasi seperti di buku, aku membeli CD relaksasi secara online dan mulai mendengarkannya di rumah secara rutin. Aku pun semakin gencar berdoa. Sekarang doaku sedikit berubah, kata-kata tidak sakit sudah aku ganti dengan kata “nyaman”. Jadi aku berdoa agar bisa melahirkan secara alami dan nyaman di waktu dan tempat yang tepat dan tentunya dibantu oleh bidan yang tepat. Aku sama sekali tidak  berharap bersalin dengan bantuan dokter apalagi rumah sakit.

Suatu ketika saat sedang melihat-lihat facebook, aku terbersit untuk melakukan pencarian dengan kata “hypnobirthing”. Muncullah beberapa group FB dengan kata kunci tersebut. Yang membuat aku ingin meloncat kegirangan adalah ketika aku melihat ada nama grup “Hypnobirthing Salatiga”. Tanpa pikir panjang aku bergabung dengan grup tersebut. Tertera di profil bahwa grup ini baru ada pada bulan Desember 2012. Artinya grup ini masih baru. Kebetulan sekali di wall grup tersebut ada pengumuman mengenai Yoga Pre-natal Class dan Hypnobirthing Class. Segera aku hubungi contact person yang tertera.

 

Sejak bertemu dengan bidan Ibu Alam dan komunitas hypnobirthing Salatiga , aku merasa sangat bersemangat menikmati minggu-minggu terakhir kehamilanku dan menyambut persalinanku. Aku merasa inilah jawaban Tuhan atas doaku. Aku mulai rutin ikut kelas Yoga Prenatal dan kelas Hypnobirthing. Aku bersyukur bisa bergabung dengan komunitas ini. Bertemu dengan para ibu hamil, berbagi cerita dan pengalaman, senam bersama, dan berfoto bersama menjadi kegiatan seru yang sangat menghibur dan mampu mengusir lelah. Suamiku jika sedang di rumah Salatiga selalu mengantarkan aku ke tempat senam yang memang cukup jauh dari rumah. Biasanya kami naik angkot berdua. Kalau suami sedang di Jepara biasanya aku berangkat sendirian.

Setelah ikut kelas Yoga dan Hypnobirthing ini aku merasa semakin yakin dan optimis bisa melahirkan dengan persalinan normal dan nyaman. Kuncinya adalah pemberdayaan diri dengan banyak membaca, banyak berlatih relaksasi, senam yoga, berkomunikasi dengan bayi dalam kandungan dan tentu saja menjaga pola makan dan istirahat. Tak lupa dukungan suami dan keluarga serta doa yang tak henti. Aku sangat mengapresiasi suamiku yang selau siaga dan mau bekerja sama. Suami tak enggan mendengarkan materi yang aku peroleh dari kelas Hypnobirthing maupun dari bacaan lain. Bahkan suami pernah sekali ikut kelas hypno. Bersama suami ku aku aplikasikan apa yang aku dapatkan di kelas Hypnobirthing.

 Sungguh skenario Tuhan sangat indah. Dipertemukannya aku dengan bidan Ibu Alam dan komunitas Hypnobirthing Salatiga adalah sebuah kado indah di penghujung masa kehamilan pertamaku ini. Sejak saat itu aku mulai check up kandungan ke Ibu Alam. Tiap sebelum mengikuti kelas senam pun tiap anggota selalu dicek dulu kondisi tubuh dan kehamilannya. Jadi, semakin intensif lah pemeriksaan kandungan yang kujalani. Hal ini tentu saja membuatku makin tenang.

 

Mendekati HPL

            Tak perlu waktu lama bagiku untuk memutuskan akan bersalin di mana dengan bantuan siapa. Aku sudah mantap memilih melahirkan di klinik Ibu Alam. Aku merasa cocok tidak hanya karena bidan di Ibu Alam saat itu adalah bidan di Salatiga yang merupakan praktisi Hypnobirthing, tapi juga karena bidan di Ibu Alam ini begitu helpful, cheerful dan patient. Tiap kali mengobrol dengan Bidan Ibu Alam, aku selalu merasa ada chemistry. Aku pun mengutarakan niatku ini pada Ibu dan suami. Suamiku mendukung penuh. Kalau ibuku awalnya agak ragu, tapi setelah aku ajak ketemu langsung ke Ibu Alam saat check up kandungan, ibuku ikut setuju.

            Hari perkiraan lahir (HPL) yang dulu diperkirakan semakin dekat menghampiri. Aku tak sabar ingin bertemu bayiku, namun aku belum ada tanda-tanda orang mau melahirkan. Suatu malam, kalau tidak salah 4 hari sebelum HPL aku merasakan kontraksi. Aku dan suami sudah siap-siap akan ke Bidan, tapi kemudian kontraksiku menghilang. Aku ingat sebuah teori bahwa menjelang HPL biasanya muncul yang disebut kontraksi palsu. Ternyata aku mengalaminya juga malam itu. kontraksi yang kurasakan belum teratur. Tidak bertambah kuat malah kemudian menghilang. Akhirnya aku batal pergi ke Bidan setelah sebelumnya konsultasi dengan Bidan Ibu Alam via sms.

            HPL sudah kurang sehari lagi tapi masih belum ada tanda-tanda bayiku mau keluar melihat dunia. Aku sebenarnya sudah sangat ingin bertemu dengan bayiku, tapi aku sadar bahwa HPL bukan patokan pasti. Bisa maju bisa mundur. Kalaupun hingga besok aku belum melahirkan, ya berarti memang belum waktunya. Bayi punya waktunya sendiri untuk keluar dari rahim ibunya. Tuhan sudah mengatur semunya, jadi tak ada alasan bagiku untuk tidak santai dan sabar. Perbanyak doa, relaksasi dan jalan kaki atau olahraga ringan maka rasa panik dan kawatir tak akan menghampiri. Just relax!

            Dugaanku benar, aku tak melahirkan pas di HPL. Namanya juga perkiraan manusia. Usia kandunganku saat itu sudah 39 minggu. Aku melakukan cek up ke Bidan Ibu Alam H+1 HPL. Alhamulillah bayiku aman-aman saja dalam kandungan. Bidan di Ibu Alam menyarankanku untuk tetap tenang dan menunggu maksimal 2 minggu lagi. Tidak perlu panik dan tergesa-gesa melakukan tindakan apapun. Aku memang tetap bisa tenang, tapi perasaan ingin segera melihat bayiku semakin tak tertahankan hingga rasanya aku ingin menangis. Aku katakn pada bayiku bahwa aku merindukannya, ingin segera bertemu dengannya. Suamiku juga makin sering melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran di sampingku sambil mengelus perutku. Tiap kali mendengar suami mengaji, bayi dalam kandunganku bergerak-gerak seolah memberitau bahwa dia mendengarnya dan menyukainya.  Subhanallah.

 

            It’s the day

            Siang itu, saat sedang tidur sekitar pukul 14.30 aku merasakan kontraksi, awalnya aku pikir mungkin kontraksi palsu sehingga aku sempat mengabaikannya. Setelah kontraksinya semakin sering dan rasanya semakin kuat serta durasi kontraksinya semakin panjang, aku berpikir mungkin aku akan melahirkan hari itu juga. Aku membangunkan suamiku dan memberitahu ibuku. Melihat kondisiku, ibuku segera menyuruhku bersiap2. Aku semakin yakin ini memang saatnya aku akan melahirkan karena kontraksiku semakin kuat.

Aku tetap berusaha rileks dan mengatur napas seperti yang selama ini diajarkan di kelas Hypnobirthing. Kontraksi yang datang merupakan “gelombang cinta”, begitu kami para bunda di komunitas Hypnobirthing menyebutnya. Aku tetap berusaha tersenyum sambil terus menggerakkan tubuh dengan goyang pinggul dan berjalan-jalan serta mengatur nafas menikmati gelombang cinta yang semakin kuat kurasakan. Dengan ketenangan hati dan pikiran, otak otomatis tidak terpaku pada rasa sakit yang datang dan akhirnya kontraksi pun menjadi terasa lebih nyaman. Setelah semuanya siap, sekitar pukul 15. 45 aku dan suami beserta ibu dan adik bungsuku pun meluncur ke klinik Ibu Alam diantar mobil tetangga sekaligus disupiri yang punya mobil.

            Sesampainya di klinik, kontraksi datang semakin dahsyat. Sambil duduk di atas birth ball aku melakukan gerakan goyang pinggul dan mengatur nafas. Merasa lapar, aku meminta ibuku yang memang sudah menyiapkan makanan untuk menyuapiku. Sesuatu banget rasanya ketika sedang kontraksi dahsyat begini disuapi oleh ibuku. Terasa betul kasih sayang seorang ibu mengalir begitu hangat. Aku makan sembari sesekali minum. Aku harus punya cukup tenaga agar aku kuat saat bersalin nanti.

            Sejak datang di klinik hingga menjelang maghrib, bidan di Ibu Alam belum ada yang berhasil melakukan pemeriksaan dalam (VT) karena tiap kali akan melakukannya, jalan lahirku tidak mau membuka. Sepertinya aku mulai tegang karena otakku sudah mulai terfokus pada rasa sakit yang datang sehingga teori yang kudapat saat hypnobirthing menghilang entah ke mana untuk beberapa saat. Menyadari hal ini, Bidan Ibu Alam menawariku untuk dipandu relaksasi olehnya. Ini adalah salah satu teknik yang digunakan dalam hypnobirthing. Aku pun berbaring di atas ranjang yang disediakan sambil mendengarkan panduan relaksasi menjelang persalinan. Gelombang cinta yang dahsyat itupun terasa lebih nyaman. Aku mulai bisa merasakan bayiku sedang berusaha mencari jalan keluar. Aku merasakan tubuhku dan bayiku sedang bekerja sama. Semua ini membuatku merasa lebih tenang hingga akhirnya berhasil mengadakan  pemeriksaan dalam sambil mengajakku mengobrol usai relaksasi. Ternyata pembukaan sudah lengkap. Saat itu waktu maghrib telah tiba.

            Karena pembukaan sudah lengkap, aku mulai memposisikan diri dengan posisi yang menurutku nyaman. Inilah yang aku suka dari metode Gentle Birth dan Hypnobirthing. Dengan metode ini, kami para ibu yang akan melahirkan bebas memilih posisi apa yang menurut kami nyaman untuk melakukan persalinan. Beberapa pilihan posisi melahirkan diperkenalkan pada kami saat mengikujti kelas Hypnobirthing. Para tenaga kesehatan yang sudah menjadi praktisi Hypnobirthing akan siap membantu persalinan dengan posisi apapun yang dipilih pasien. Jadi tidak adaa lagi bidan yang memberikan instruksi pada pasien agar berposisi terlentang ketika akan melahirkan which is posisi ini adalah posisi paling buruk untuk melahirkan.  

Setelah beberapakali mencoba beberapa posisi, akhirnya aku memilih posisi duduk dengan kaki selonjor di atas ranjang sedangkan suamiku di belakangku sebagai sandaranku dan peganganku. Saat kurasakan perut semakin mulas dan bayiku mulai turun ke bawah, Bidan Ibu Alam yang melihat kondisiku menanyakan apakah aku ingin mengejan. Setelah mengiyakan, bidan Ibu Alam mulai mengarahkanku. Aku akan mengejan saat perutku terasa mulas atau kontraksi karena itu tandanya bayiku sedang bergerak mencari jalan lahir.

Sekali dua kali mengejan, aku belum berhasil mendorong bayiku keluar. Aku harus mengejan beberapa kali sambil diselingi istirahat. Proses mengejan sempat terhenti tatkala kontraksiku menghilang beberapa saat dan aku merasa butuh istirahat sebentar. Suamiku pun keluar ruangan untuk sholat maghrib karena waktu maghrib sudah akan berakhir. Sementara ibuku yang sudah sholat dan tadi di luar ruang bersalin, sekarang gentian menemaniku. Tak lama berselang, Kontraksi hebat terasa lagi dan aku mulai mengejan lagi. Beberapa saat kemudian suamiku muk ke ruangan lagi untuk mendampingiku.

 Karena dirasa posisiku kurang membantu, maka bidan meyarankan aku untuk mengambil posisi tidur miring sambil mengejan. Proses mengejan yang aku lalui memang cukup lama dan melelahkan tapi aku berusaha tetap kuat. Bidan Ibu Alam tak hanya mengarahkan tapi juga memberikan dukungan dengan penuh sabar. Ibuku tak henti melantunkan doa. Suamiku juga masih setia mendampingiku di atas ranjang. 30 menit lebih sudah berlalu, namun bayiku belum juga mau keluar. Rupanya aku tidak mengejan dengan benar. Aku kurang pas dalam mengatur napas saat mengejan. Hal ini sempat membuatku sedikit cemas tapi aku yakin aku mampu melakukannya. Setelah istirahat lagi untuk beberapa menit sambil mengumpulkan tenaga dan memperhatikan arahan Bidan Ibu Alam, aku katakan “mbak, aku kuat kan mbak?  Once more, mbak. I’ll try.” Bidan Ibu Alam pun mengiyakan dengan tatapan penuh dukungan dan kepercayaan. Aku bertekad ini sesi mengejanku yang terakhir. Aku coba merasakan gerak bayiku dan aku bisikkan dengan hati padanya untuk bekerja sama lebih baik. Sambil terus melantunkan doa dalam hati, aku mulai mengejan lagi sekuat tenaga. Entah berapa kali mengejan, akhirnya pada pukul 19.30 yang artinya setelah hampir satu jam sejak aku mulai mengejan yang pertama, terdengarlah suara tangis bayi memenuhi ruangan. Alhamdulillah bayiku keluar dengan gentle melalui jalan lahirku. Bayi perempuan yang mungil itu telah resmi melihat dunia.  Allahu Akbar. 

            Masih dengan tali pusar yang belum dipotong, Bidan Ibu Alam segera meletakkan bayiku di atas dadaku agar terjadi skin contact antara aku dan bayiku dan juga dalam rangka IMD (inisiasi menyusui dini). Subhanallah…sungguh aku bersyukur bayiku lahir normal dan sempurna. Dengan sisa tenaga yang aku punya, aku pun menyentuh bayiku untuk pertama kalinya. Suamiku kemudian mengazani buah hati kami. Setelah itu aku mulai menjalani penjahitan jalan lahir yang robek akibat mengejan. Proses penjahitan ini pun dilakukan dalam suasana serileks mungkin sambil mengobrol dengan Bidan Ibu Alam sehingga aku tak merasakan sakit. Bayiku kemudian dibersihkan, ditimbang dan diimunisasi. 

            Nikmatnya perjuangan melahirkan secara normal telah aku rasakan hingga yang tersisa dalam ingatanku bukan lagi rasa sakit melainkan rasa nyaman. Hypnobirthing sudah bukan menjadi teori lagi karena sudah aku alami. Persalinan yang lembut seperti dilakukan di rumah dan penuh dengan rasa kekeluargaan (gentle Birth) purna sudah aku jalani. Saat Bidan Ibu Alam menanyakan apakah mau langsung dipotong tali pusar bayiku, aku meminta penundaan. Aku dan Bidan Ibu Alam pun sepakat menunggu satu jam lagi untuk memotong tali pusar bayi cantikku.

            Ternyata kunci melahirkan yang utama memang pemberdayaan diri. Mau mengupayakan diri dengan tubuh pikiran dan hati sedari dini adalah amunisi untuk menyambut sang buah hati. Percaya penuh pada kuasa Tuhan serta kekuatan yang Tuhan berikan pada tubuh dan bayi kita adalah senjata ampuh melawan rapuh. Dukungan serta doa orang-orang terdekat yakni suami dan ibuku juga keluarga di rumah serta bantuan Bidan Ibu Alam yang sabar merupakan pembakar semangat dalam rangkaian proses persalinan yang melelahkan.

Terimakasih Tuhan atas karunia terindah dalam hidupku berupa bayi perempuan mungil yang sempurna. Jika bukan karena izin Tuhan, mungkin aku tak akan sekuat ini menjalani proses persalinan. Karena pertolongan-Nya lah aku mampu menjalani persalinan yang alami, nyaman dan indah untuk dikenang. Dengan penuh syukur aku katakan “My journey of giving birth is a beautiful journey ever”.

 

Our Gallery

Kumpulan galeri klinik ibu alam

Contact Us

Untuk memperluas jaringan, dan kerjasama dalam mengaplikasikan konsep Ibu Alam ke dalam sebuah klinik pratama / utama / RS. Ibu Alam menyediakan pendidikan dan pelatihan (education and training) oelh Ibu Alam tim bagi stake holder yang berminat. Pelayanan holistik ini mampu bersaing di era global, karena mindset costumer bukan lagi pelayanan gratis namun pelayanan yang nyaman dan humanis. Company Profile Ibu Alam akan dikirim via email jika anda berminat mengadakan kerjasama.

Contact Info

  • Tegalsari 1/8 Mangunsari
    Sidomukti Salatiga
    Jawa Tengah 50721