Eriís Birth Story




Eri’s Birth Story

 

Ini adalah kehamilanku yang ke-2, tepat satu bulan setelah aku melakukan kuret karena keguguran yang aku alami di kehamilan yang pertama.

Aku berusaha menjaga kehamilanku ini dengan baik, melakukan segala sesuatu yang terbaik untuk pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahimku, ya tentunya dengan dukungan dan semangat dari suamiku.

Dari awal hamil aku dan suami sudah berniat dan selalu berdo’a agar nanti bisa melahirkan dengan normal tanpa jalan operasi. Aku selalu berusaha mencari informasi tentang bidan atau dokter yang pro-normal baik dari teman-teman kerja maupun tetangga, maklumlah aku dan suami adalah perantau yang baru saja mulai tinggal di Salatiga. Hingga pada suatu ketika ada teman kerjaku bercerita mengenai Ibu Alam, dan kebetulan juga ada teman kerja yang lain yang pernah melakukan persalinan di Ibu Alam. Dia menceritakan proses persalinannya di Ibu Alam mengenai doula-doulanya dan pelayanannya yang membuatku semakin tertarik.

Sepulang kerja aku bercerita kepada suamiku mengenai Ibu Alam, mungkin awalnya memang suamiku kurang respect (tertarik), tetapi lama-lama malah dia yang bersemangat kalau nanti melahirkan di Ibu Alam saja.

Pada usia kehamilanku 23 minggu aku mulai bergabung dengan grup Whatsapp Ibu Alam, disana banyak sekali ilmu yang aku dapatkan. Kemudian pada usia kehamilanku 28 minggu aku dan suami memantapkan hati untuk berencana melakukan persalinan di Ibu Alam. Aku mengisi Birth Plan kemudian aku dibuatkan grup Whatsapp khusus untuk perisapan persalinanku.

Pada usia kehamilan 36 minggu aku datang ke studio Ibu Alam untuk konsultasi, ya disini saya dan suami merasa sangat bodoh karena tidak ada bekal ilmu sama sekali untuk mempersiapkan persalinan secara normal, dan agak telat juga konsultasi secara langsungnya baru setelah usia kehamilan 36 minggu.

Saat konsultasi Bidan Ibu Alam memberikan beberapa saran seperti ikut kelas prenatal yoga dan kelas optimalisasi posisi bayi. Kelas prenatal yoga yang pernah aku ikuti di studio Ibu Alam, kebetulan waktu itu ada kelas prenatal yoga gratis untuk memperingati hari ibu, dan selanjutnya aku rutin setiap minggu mengikuti kelas prenatal yoga dengan instrukturnya yang selalu membimbing dengan baik, sabar dan selalu memberikan banyak ilmu melalui diskusi selama yoga.

Tiba waktuya minggu yang menegangkan yaitu minggu ke-40 di usia kehamilanku. Di minggu ini aku harap-harap cemas menunggu gelombang cinta si buah hati datang, namun sampai pada hari perkiraan lahir (8 januari 2018 menurut perhitungan bidan) gelombang cinta itu tak kunjung datang, hanya rasa kencang-kencang saja di perutku.

Setelah itu aku tak lagi harap-harap cemas, tapi sudah mulai cemas beneran, namun suami selalu berusaha menenangkan aku dan membimbingku untuk selalu berdo’a yang terbaik.

Tanggal 8 Januari 2018 adalah jadwal control ke Ibu Alam. Karena rasa penasaran, pada hari selasa tanggal 9 Januari 2018 aku periksa ke dokter di Salatiga bersama suami. Hasil pemeriksaan dokter membuatku seketika sedih dan air mata pun tak tertahankan lagi. Kata dokter air ketuban di kandunganku sudah menipis dan plasentanya sudah mulai berlubang-lubang, sehingga dokter menyarankan untuk tidak pulang dan langsung dibawa ke IGD. Yang terbayang dalam benakku waktu itu adalah seandainya dalam proses melahirkan itu dipacu, dan saat dipacu tak ada reaksi juga pasti langkah selanjutnya akan dioperasi cesar. Badanku langsung lemas semua, rasanya sudah putus asa beruntung ada suami yang tetap menyemangati dan membimbing untuk selalu berpikiran positif.

Waktu itu aku dan suami memutuskan untuk tidak mengikuti saran dari dokter dan tetap pulang dengan segala resiko yang akan terjadi. Dari tempat dokter, aku dan suami langsung ke studio Ibu Alam, dalam perjalanan aku terus menangis karena rasa takut dan cemas pada keadaan dan kondisi bayiku di dalam kandungan. Sampai di Studio Ibu Alam aku bertemu dengan bidan Ibu Alam yang mencoba menenangkan aku. Setelah mendengar penjelasan dari Bidan Ibu Alam lewat grup Whatsapp, barulah aku merasa tenang, suami juga menenangkan dan meyakinkan aku pasti bisa melahirkan dengan normal. Aku mulai tenang dan yakin pasti bisa melahirkan dengan normal pada waktu yang tepat.

Pada tanggal 10 Januari 2018 aku sudah mulai merasakan kontraksi yang cukup intens, tapi tidak disertai mules maupun keluarnya lendir darah. Pada malam harinya aku mulai merasakan tidak nyaman dengan kontraksi itu, suami mengajaku untuk periksa ke Ibu Alam, waktu diperiksa di VT ternyata belum pembukaan (hehe…… maklum pengalaman pertama, jadi belum tau kontraksi yang seperti apa yang sudah mulai pembukaan)

Pada tanggal 11 Januari 2018 kontraksi mulai melemah dan makin tidak teratur lagi, pada tanggal 12 Januari 2018 kontraksi mulai intens lagi dan nyeri di punggung mulai tak tertahankan, namun tetap saja tidak ada tanda-tanda keluarnya lender darah.

Waktu itu dirumah aku sudah ditemani Ibu dan suami. Ibuku sudah menyuruhku untuk pergi ke bidan, tapi aku masih kuat menahan, nanti saja kalau sudah benar-benar tidak tahan lagi. Sampai malam kontraksi semakin intens dan semakin nyeri, hingga semalaman tidak bisa tidur. Suami sudah bilang untuk dibawa ke bidan, namun aku masih ingin menunggu sampai habis subuh. Begitu adzan subuh aku dan suami bersiap-siap untuk pergi ke Ibu Alam. Sampai di Ibu Alam kemudian diperiksa VT dan ternyata sudah bukaan 2, dan diperbolehkan untuk menunggu di Ibu Alam. Di Ibu Alam aku merasa lebih tenang biarpun kontraksi semakin intens karena adanya bimbingan dari Doula-doula yang baik dan sabar.

Proses persalinan anak pertamaku memang berjalan lumayan lama, tapi aku sangat beruntung ditemani Doula-doula yang begitu baik, yang selalu menemani proses persalinan dan membimbingku dengan tenang dan sabar. Terimakasih juga buat Suamiku yang selalu berada disampingku dan memberikan semangat dan juga buat Ibuku yang menemaniku sambil duduk di pojok kursi dengan muka pucat dan lemas melihat anak perempuannya kesakitan menahan kontraksi, tapi aku yakin dalam diamnya Ibu terselip do’a-do’a agar aku diberikan kemudahan.

Setelah adzan ashar, rasa sakit sudah semakin tak tertahankan, aku sudah tidak bisa lagi tersenyum, rasa ingin mengejan sudah mulai datang, dan aku mulai tidak bisa lagi menahan emosiku, namun Doula Ibu Alam dan Suamiku selalu berusaha membuatku tetap tenang.

Doula-doula berusaha mengalihkan rasa sakit kontraksiku dengan mengajaku beryoga, kemudian berendam di air hangat dan selalu memberikan kata-kata penyemangat, membimbing mengatur nafas agar aku lebih tenang dan bisa menahan emosiku. Selesai berendam air hangat aku disarankan untuk istirahat tidur untuk menyimpan energy, ya hanya terlelap sebentar karena kontraksinya datang terus menerus dengan rasa sakit yang semakin sakit. Rasa mengejan saat itu sudah tak tertahankan lagi, sehingga aku dipindahkan ke ruang bersalin diperiksa di VT sudah bukaan 9.

Pada jam 9 malam bukaan sudah lengkap, aku mulai naik ke ranjang dan dibimbing untuk mengejan dengan posisi menungging berpegangan pada suami dan bersandar pada gymball, ternyata butuh waktu yang lumayan lama hingga air ketuban pecah. Setelah air ketuban pecah, aku diminta mengejan sambil jongkok. Begitu mengejan sambil jongkok kepala bayi sudah mulai terlihat, aku diminta untuk berbaring dan mengejan dengan kuat hingga kepala bayi keluar dan dibantu doula-doula untuk mengeluarkan badan bayi.

Dan tepat dihari ulang tahunku tanggal 13 Januari pukul 22:05 terdengar suara tangisan bayi yang keras pertanda putra pertamaku telah lahir ke dunia. Air mata haru menetes, senyum kebahagiaan, semua rasa sakit hilang dalam sekejap dan tak henti-hentinya aku ucapkan puji syukur kehadirat Allah yang telah memberikan anugerah terindah dalam hidupku.

Putra pertamaku terlahir dengan sehat, lengkap, dengan berat 3 kg, panjang 48 cm. Terimakasih untuk Bidan, pelatih Yoga dan seluruh tim Ibu Alam yang sudah membantu, membimbingku dari awal bergabung sampai proses persalinan berjalan lancar dan normal. Semoga menjadi catatan amal ibadah bagi seluruh tim Ibu Alam.

Selesai…..        

Our Gallery

Kumpulan galeri klinik ibu alam

Contact Us

Untuk memperluas jaringan, dan kerjasama dalam mengaplikasikan konsep Ibu Alam ke dalam sebuah klinik pratama / utama / RS. Ibu Alam menyediakan pendidikan dan pelatihan (education and training) oelh Ibu Alam tim bagi stake holder yang berminat. Pelayanan holistik ini mampu bersaing di era global, karena mindset costumer bukan lagi pelayanan gratis namun pelayanan yang nyaman dan humanis. Company Profile Ibu Alam akan dikirim via email jika anda berminat mengadakan kerjasama.

Contact Info

  • Tegalsari 1/8 Mangunsari
    Sidomukti Salatiga
    Jawa Tengah 50721